Rabu, 02 Maret 2011

CERPEN


Kenyataan Yang Pahit

Terdiam. Hanya itu yang dilakukan Goklas, seorang anak kelas 3 SMP, karena diejek teman-temannya. Goklas berbeda dari anak-anak biasanya, ia terlahir tanpa tangan kanan. “Hey tangan buntung! Ngapain kamu sekolah kalau ga punya tangan?” ledek Ian, teman sekelasnya yang paling badung. “Ga punya tangan..ga punya tangan.. hahahaaaa…” timpal teman-teman akrab Ian. “Hey!! Sana kalian!! Ga usah ngejek-ngejek abangku ya! Kupukul kamu nanti.” Cindy yang berbeda satu tahun dengan Goklas datang dengan tampang garangnya. “Eh, adeknya si buntung udah datang ya. Nih pukul kalo berani,” tantang Ian sambil memberikan pipinya. BUUUKK!! Cindy yang tomboy itu pun tanpa segan menonjok pipi Ian. Teman-teman Ian yang lain langsung mundur setelah melihat Ian jatuh ke lantai. “Makanya, lain kali jangan kurang ajar ya,” kata Cindy sambil menatap Ian. “Liat aja Cindy, kamu bakalan aku laporin ke bu guru,” ancam Ian. “Sono gih laporin, aku ga takut karena aku ga salah. Ayo kak Goklas, kita pulang,” ajak Cindy sambil menggandeng Goklas.
            “Makasih ya dek. Lagi-lagi kamu ngelindungin aku, padahal harusnya aku yang ngelindungin kamu,” kata Goklas sambil menunduk. “Apaan sih abang ini? Masa aku diam aja waktu ngeliat abang diejek? Aku kan saudara kandung abang, jadi wajar dong kalau aku bantuin abang. Ya kan? heheheee,” kata Cindy dengan senyum sumringah di pipinya. Goklas tertegun mendengar kata ‘saudara kandung’. Cindy tidak mengetahui kenyataan bahwa ia adalah anak angkat dari pak Luhut dan bu Nia. Goklas berasal dari keluarga menengah ke atas, mamanya keguguran sewaktu melahirkan adik Goklas. Akhirnya Pak Luhut dan Bu Nia sepakat untuk mengangkat anak perempuan dari panti asuhan ‘Damai Sejahtera’. Sewaktu berumur 10 “Kak? Kak Goklas? Kok bengong?” tanya Cindy sambil melambai-lambaikan tangannya. “Eh, ngga kok,” jawab Goklas.
            Sekitar 5m lagi untuk sampai, mereka melihat ada seorang wanita paruh baya berpakaian daster berdiri di depan rumah mereka. “Maaf, ibu mencari siapa ya?” tanya Cindy. Ibu itu terlihat  agak panik dan linglung melihat Cindy dan Goklas yang tiba-tiba muncul dari belakangnya. Tanpa bicara, ibu itu memberikan leontin berbentuk hati ke tangan Cindy dan langsung pergi dengan jalan cepat. “Bu!! Nama ibu siapa?” tanya Cindy dan Goklas, tapi jarak ibu itu sudah agak jauh. “Yasudahlah, ayo kita masuk Cin,” ajak Goklas sambil mengambil sepucuk surat yang terinjak olehnya.  “Oia, kamu ga usah kasitau mama atau papa ya tentang kejadian hari ini.” “Kenapa Bang? Eh leontinnya mirip kaya punya Cindy ya, Bang,” kata Cindy sambil mengeluarkan leontin yang dipakainya. “Ga papa, biar ga jadi pikiran mama dan papa aja. Sini abang yang simpan kalungnya, nanti kalau ketemu lagi, biar kita kembalikan,” kata Goklas sambil mengambil leontin itu dari tangan Cindy. “Oke bang.. Mamaaaa!! Kami pulang..” teriak Cindy sambil mengetok pintu. “Kalian udah pulang? Ayo cepat ganti baju ya sayang, mama udah masak makanan kesukaan kalian,” kata  mama setelah membuka pintu. “Ma, aku lagi ga nafsu makan. Aku langsung istirahat aja ya,” kata Goklas yang langsung pergi ke kamarnya di lantai dua.
“Kenapa dia Cin? Tumben lemes begitu,” tanya mama sewaktu di meja makan.
“Tadi tuh abang diejek lagi ma sama temen sekelasnya, si Ian dan gengnya yang jelek itu tuh Ma,” ungkap Cindy agak kesal.
“Kayaknya mama perlu  ke sekolah untuk berbicara dengan kepala sekolah kalian. Mama ga terima anak mama diejek terus-menerus seperti itu.”
“Tapi tenang aja Ma, Cindy udah kasih pelajaran ke Ian, Cindy tonjok aja tadi pipinya.”
“APA? Kamu nonjok dia? Cindy, mama ga suka sikap kamu yang kaya begitu. Pukulan itu dipakai hanya pada saat-saat terakhir saja, mengerti kamu?” kata Ibu Nia dengan nada yang agak tinggi.
“Maaf Ma, maaf.. Habisnya Cindy kesal dengan sikap mereka yang udah terus-terusan ngejek abang. Abang juga sih, diem aja dikatain kaya gitu,” bela Cindy.
“Kali ini mama maafkan, tapi lain kali, kamu harus belajar menahan emosimu ya sayang. Menyelesaikan masalah itu tidak harus dengan kekuatan, apalagi  kamu ini anak perempuan. Ingat itu ya!”
“Iya Ma, maafin Cindy ya Ma.”
****

Di kamar, Goklas penasaran akan surat itu dan ia pun membacanya.

‘ Untuk Bapak & Ibu yang telah merawat Cindy selama ini.
Maaf yang sebesar-besarnya saya ucapkan karena akan membawa berita yang mengejutkan untuk Bapak & Ibu. Saya adalah Martha, orangtua kandung dari Cindy. Setelah mencari kurang lebih 12 tahun, akhirnya saya menemukan keberadaan anak saya Cindy. .Terima kasih banyak karena Bapak dan Ibu telah merawat dan memberikan kasih sayang terhadap putri saya. Saya sangat berharap bisa bertemu dengannya dan tinggal bersamanya. Kalau Bapak dan Ibu mengijinkan saya bertemu dengan Cindy, tolong telepon saya ke no 08987654321. Mungkin Bapak dan Ibu akan menganggap saya Ibu yang tidak tahu diri, tidak berperasaan meninggalkan anaknya di panti asuhan. Akan tetapi, saya mempunyai alasan untuk berbuat demikian. Saya mohon berikan saya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan saya. Mohon ijinkan saya untuk memiliki kesempatan memimpikan sebuah dunia baru bersama puti saya.Saya rasa Bapak dan Ibu dapat mengerti perasaan saya sebagai orang tua. Terima kasih, Martha.’


Firasat yang tidak diharapkan Goklas pun akhirnya terjadi. Perempuan yang berdiri di pagar itu ternyata ibu kandung Cindy, Ibu Martha. Goklas sangat khawatir akan hal ini, ia takut Cindy akan dibawa pergi oleh ibu kandungnya. Akan tetapi, ia juga tahu bahwa ini tak adil bagi Cindy jika ia tak memberitahunya. Perasaannya galau. Ia bingung harus memutuskan berbuat apa. “Tok..tok.. Goklas, mama boleh masuk?” Mendengar suara mamanya, ia langsung menyembunyikan suratnya ke bawah bantal dan membukakan pintu.
“Kenapa Ma?” tanya Goklas.
“Mama cuma pengen nanya kamu kenapa hari ini? Apa ada masalah di sekolah kamu?” tanya Ibu Nia sambil mengusap rambut Goklas.
“Ngga kok Ma, Goklas ga kenapa-napa. Cuma agak kecapean aja di sekolah, jadi pengen langsung istirahat.”
“Kamu diejek lagi ya sama teman-teman sekolahmu?”
“Pasti kata cindy ya Ma? Udah kubilangin ga usah cerita juga.
“Jangan bohong sama mama ya sayang. Kebohongan itu, jika kau terus mengatakannya, itu akan menjadi kebiasaan. Terus terang aja sama mama Goklas.
“Bohong? Bukannya mama yang udah ngajarin bohong sama Goklas?” tanya Goklas.
“Bohong apa sayang?”
“Dulu kata mama, orangtua kandung Cindy sudah tidak ada kan? Tapi…ibu kandungnya masih hidup Ma.”
“Jaga omongan kamu itu! Cindy itu anak mama, jadi mama adalah mama kandungnya,” tegas Ibu Nia.
PRAAAAANG!! Ternyata Cindy yang ingin mengantarkan makanan kepada Goklas mendengar pembicaraan itu. ‘Jadi, aku bukan anak kandung mama?’ tanya cindy dalam hati. Cindy langsung berlari turun dan keluar rumah. Goklas yang melihat Cindy langsung mengejarnya. Tapi sayang, ketika berlari, Cindy ditabrak dan mengalami pendarahan yang hebat. Cindy langsung dilarikan ke rumah sakit dan Goklas merasa sangat bersalah dan menyesali perbuatan bodohnya itu. Dokter mengatakan bahwa Cindy mengalami kondisi yang kritis. Ia pun menelepon Ibu Martha dan memberitahu keadaan Cindy. Malam harinya, Ibu Martha datang dan masuk ke ruangan Cindy. “Anakku, maafkan ibumu ini Nak. Ibu tidak berniat meninggalkan kamu, tapi keadaan membuat mama berbuat demikian. Ibu sayang kamu Nak dan semoga kamu bisa memaafkan Ibu,” kata Ibu Martha sambil memegang erat tangan Cindy. Diciumnya kening Cindy dan “niiiiiiiiiiitt”, tampak garis lurus yang muncul di layar monitor. Cindy telah dipanggil oleh Tuhan, dan Goklas merasa ia yang patut disalahkan atas kematian Cindy. Goklas merasa sangat menyesal karena menyembunyikan kenyataan tentang ibu kandungnya. Tak ada gunanya menyesalinya karena Cindy sudah tak ada, ia telah hidup tenang di alam sana. Inilah kenyataan yang harus dihadapi Goklas, ia tak bisa lagi mengembalikan waktu yang telah berlalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar